Berdoa, berzikir, buat apa? Tiba-tiba pertenyaan itu
berkelebat di dalam benak dan dadaku. Dalam sekejap saya tersadarkan akan
kebodohan ku selama ini.
Selama ini kita selalu ditanamkan bahwa kalau ada masalah,
problem, kesusahan dan bencana, apapunlah nasib buruk yang menimpa kita, kita
disuruh berdoa. Ya berdoa. Namun kita lupa bahwa persoalan hanya dapat selesai
jika berusaha mengatasinya, bukan hanya berdoa.
Sekarang yang diingat
dalam otak kita hanya berdoa saja, tidak perlu usaha. Dikit-dikit berdoa,
berdoa, dan berdoa, namun tidak ada aksi
dan tindakan apa-apa. Seakan-akan kita menyakini benar bahwa doa akan menyelesaikan
segalanya.
Ini bukan sembarang pemberontakan batin?
Pemberontakan yang muncul dari pengalaman hidup pribadi atas
situasi yang saya hadapi.
Hari ini tanggal 15 maret 2013,tepatnya di ruang perpustakan
Anand Ashram Ubud. Ditemani beberapa rekan yang lagi mengerjakan tugas
masing-masing. Saya mendapatkan komen yang sangat mengagetkan saya dari seseorang
yang termasuk kategori saudara saya. Saat saya mengirimkan pesan ajakan untuk
membantu mengisi petisi pembebasan Anand Krishna lewat inbok facebook. Cukup tajam
dan sedikit menyakitkan barangkali:
“…masih banyak pekerjaan yg.lain. Banyak berzikir, istigfar,mintak ampun sama Allah.itu yg harus kita lakukan”
Bagus, tidak salah. Bukan karena saya anti berdoa atau tidak
setuju berdoa,namun pemahamannya soal berdoa sampai disitu. Bagi saya itulah
usaha dan tindakan yang bisa saya lakukan, mengajak orang untuk peduli dan
mengambil tindakan. Bukan berdoa dan berzikir lalu tidak bertindak dan berusaha
apapun.
Barangkali bagi dia, segala urusan bisa diselesaikan dengan
berdoa,tidak perlu usaha dan melakukan hal seperti itu. Berdoa sudah cukup.
Jauh di dalam diri saya, saya protes. Saya tersadarkan
seketika. Inilah kesalahan orang Indonesia dan ulama kita selama ini. Berdoa, berdoa dan
berdoa, namun kita lupa berusaha sekuat tenaga
sampai tetes keringat yang terakhir atau barangkali kita terlalu malas. Berdoa
, minta ini, minta itu,minta apa saja tapi malas bekerja . That very wrong.
Mereka lupa barangkali,maksudnya saudara saya, salah satu
ayat dalam kitab suci nya(al-Qur’an) menyebutkan bahwa Tuhan pun tidak akan mengubah nasib
suatu kaum jika dia tidak megubahnya. Tidak akan mengubah nasib anda, saya
bahkan siapapun juga jika kita tidak bertindak, tidak berusaha untuk
memperbaikinya.
Tuhan sangat logis dalam hal ini. Dia tidak akan memberi
begitu saja bak tukang sulap, sim salabim, kita dapat roti. Tidak. Tuhan bukan
tukang sulap seperti itu. Dia mengharuskan kita berusaha, berupaya sekuat
tenaga. Celakanya selama ini kita sangat doyan berdoa tapi malas bekerja. Sehingga menjamurlah acara
doa bersama, berdoa untuk negeri, ruwatan istighasah atau apapun lah namanya. Rajin
berdoa tapi malas bekerja dan berusaha.
Kita ingin negeri ini menjadi
lebih baik, pemerintah lebih arif dan bijak, ekonomi lebih merata, koruptor diadili,
bisa hidup sejahtera dan aman, namun semua hanya sebatas harapan tanpa tindakan
nyata(HOPE ONLY, NO ACTION). Paling banter berdoa. Wajar saja makin banyak koruptor,
makin banyak korupsi, kolusi dan berbagai ketidakadilan di negeri ini.
Semestinya kita bisa bersama-sama
memberantas ketidakadilan dan kejahatan yang terjadi, namun kita malas
bertindak, takut berbuat. Sehingga yang jahat semakin berani berbuat kejahatan
karena orang memilih berdoa agar terhindar dari kejahatan dan takut bertindak untuk
menghentikannya.
Dengan beroa kita merasa kita dekat dengan Tuhan, kita
berdialog dengan Tuhan dan merasa
“sudah”beragama.
Berdoa bukan berarti meniadakan usaha. Berdoa adalah bentuk
kesadaran bahwa tanpa berkah dan campur tangan Tuhan, usaha kita tidak berarti
apa-apa. Berdoa menunjukkan bahwa kita rendah
hati dan tidak arogan, tidak sombong bahwa kita mampu melakukan apapun tanpa campur
tangan Tuhan.
Itulah fungsi doa, menurut saya, bukan untuk meniadakan
usaha dan tindakan.
Dulu para nabi, para suci berdoa sebagai bukti bahwa dia menyadari
Keilahian Tuhan dan berkahnya, bukan untuk menggantikan usaha dan tindakan
nyata.
Sekarang sudah jauh berbeda.
Saat ini, sebagian besar orang yang doyan berdoa, barangkali
orang yang malas bertindak, mengambil tanggung jawab untuk mengubah diri dan
nasib kaumnya. Orang yang takut
memanggul resiko sebuah tindakan.
Jika sibuk berdoa, ke Masjid, Gereja, Pura, Wihara,sibuk
bolak-balik ke rumah ibadah, anda akan terlihat
alim dan dekat dengan Tuhan, dan minim resiko. Orang seperti itu hanya
mementingkan dirinya sendiri dan tidak banyak bermanfaat bagi kebaikan
masyarakat. Namun jika anda termasuk orang yang berani mengatakan yang benar,
bertindak benar, maka siap-siaplah untuk menghadapi resiko yang tidak
terbayangkan. Bisa jadi anda akan difitnah, dipermalukan, dilecehkan, dikucilkan,
dihina, dibuat cacat, digebuki, dianiaya bahkan mati di tangan orang lain.
Ada banyak alasan klise. Berdoa saja, biar Tuhan yang akan
membalas. Setelah itu kita sibuk berdoa agar si “penjahat” ini dihukum Tuhan,
dimasukkan ke neraka. Namun si zalim tidak kunjung celaka dan idak juga mati,
sehingga tidak masuk neraka dengan
segera. Maka si zalim yang kita biarkan berlalu karea kita takut bersuara dan
bertindak, akan mulai mencelakakan orang lain dan berbuat onar sepanjang
hidupnya, hanya gara-gara kita takut dan memilih berdoa daripada bertindak tepat
agar si zalim ini sadar dan berhenti berbuat jahat.
Jadi segala bentuk kehatan, ketidakadilan dan kerusakan
masyrakat mulai dari level tukang parkir sampai pejabat adalah hasil dari sikap
kita yang rajin berdoa tapi takut bersuara. Berdoa lebih aman dan bersuara dan bertindak
benar beresiko besar.
Jangan lagi menyalahkan orang lain kenapa semua kerusakan
dan kebobrokan ini terjadi. Ini kesalahan kita semua yang tidak berani
bertindak dan bersuara, lebih suka cari aman. Yang akhirnya membuat anda,
saya,dan cucu kita tertindas dan menderita.
Inilah kondisi sebagian besar masyarakat kita, mayoritas
yang diam. Diinjak-injak oleh sekelompok kecil orang bejat yang vokal dan bersuara
lantang. Tragis…!